MengenalAksara Jawa. Berdirinya kerajaan Mataram Islam memberi warna baru dalam sejarah penanggalan di Jawa. Tepatnya ketika pemerintahan Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, ditetapkanlah pemberlakuan Tahun Jawa. Adapun sistem penanggalan Tahun Jawa adalah mengikuti penanggalan Hijriah, yaitu berdasarkan perputaran bulan, atau disebut Komariah.

Sego golong adalah nasi biasa yang dipelang dibungkus dengan daun pisang. Nasi ini berukuran satu kepalan tangan yang berjumlah tujuh pelang. Bagi warga masyarakat Kabupaten Kediri memaknai Sego golong merupakan kemajemukan waktu dan hari, menyatukan tujuh hari, tujuh malam, lima pasaran, tiga puluh hari, dua belas bulan, empat minggu, tepatnya di hari saat itu. Sego golong disajikan untuk melengkapi Tumpeng/Buceng kuat. Adapun Sego atau nasi golong. sego golong merupakan doa agar rejekinya golong-golong’ artinya banyak berlimpah ruah. Post navigation
15June 2015 Sego golong termasuk ke dalam nasi yang dilengkapai beberapa menu sebagai pelengkapnya. Nasi selamatan/Sego Golong (Bahasa Jawa), biasa dibentuk bulat. Berbentuk bulat dimaksudkan untuk melambangkan kebulatan tekad yang manunggal. AYAM: • 1 kg ayam, potong 12 bagian • 2 lembar daun jeruk • 600 ml santan dari ½ butir kelapa
Narasi oleh Mustofa dan Zam Zamil Huda Narasi NarasiMakna tumpengMakna Nasi GolongMakna IngkungTumpeng Miriombo WetanWilujenganGambarNarasumberRelasi BudayaSumber LainDari Kanal Tumpeng, golong, giling dan ingkung merupakan sejenis menu makanan yang wajib ada dalam sebuah prosesi wilujengan. Setiap menu memiliki pemaknaan yang berbeda-beda. Dan untuk mengetahui hal tersebut saya mengunjungi Bapak Ali Muksin yang beralamatkan di Dusun Miriombo Wetan RT 005 RW 006, beliau merupakan sesepuh desa yang berusia 83 tahun dan mantan imamudin atau kaum untuk dusun Miriombo Wetan. Makna tumpeng Tumpeng memiliki bentuk yang mengerucut dengan titik kerucut berada di atas. Dulu, tumpeng ini dibentuk dengan perlengkapan khusus, yakni kukusan yang terbuat dari anyaman bambu. Meski memiliki bentuk yang sama, akan tetapi ada berbagai macam bentuk tumpeng yang dibedakan dari warna nasi beras maupun jagung, bentuk besar atau kecil, serta tujuan utamannya. Artinya setiap tumpeng juga dapat memiliki pemaknaan yang berbeda-beda tergantung dari hajatan yang dilakukan. Pemaknaan tumpeng dimulai dari paling atas tumpeng. Tepat diujung atas tumpeng sering diberi “kuluk” atau topi yang terbuat dari daun pisang yang berwarna hijau. Kuluk tersebut merupakan sebuah perlambang dari kemakmuran, kenyamanan, dan perdamaian yang diambil dari warna hijau daun pisang tersebut. Kemudian dengan bentuknya yang juga mengerucut menyimbolkan jika kemakmuran, kenyamanan dan perdamaian tersebut hanya milik Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT yang kemudian menyebar ke bawah atau ke hambanya. Makna Nasi Golong Di bagian bawah kerucut kemudian dibuat sabuk/tali kendit yang juga terbuat dari daun pisang yang dikepang atau dianyam. Hal tersebut menyimbolkan jika tali ikatan persaudaraan tersebut akan kuat jika dibangun yang disimbulkan dengan dianyam. Selain itu juga menjadi simbol jika orang lemah/orang kecil yang bersatu akan menjadi kekuatan yang besar, seperti halnya dengan anyaman daun pisang tersebut. Kemudian di bawah tumpeng ada nasi yang dibentuk bulat-bulat yang diistilahkan dengan golong. Nasi golong ini merupakan sebuah persimbolan dari pendidikan yang diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Meskipun hanya orang tuanya yang mengadakan hajatan, akan tetapi semua anak-anaknya juga diikutsertakan. Biasanya jumlah golong tersebut sama dengan jumlah anak yang dimilikinya. Tujuan dari pembuatan golong tersebut adalah agar anak-anaknya nanti dapat mengikuti kebaikan dan perikaku terpuji yang dilakukan oleh orang tuannya. Bagian paling bawah terdapat hasil bumi yang beraneka ragam dari darat dan air. Hal tersebut merupakan sebuah simbol dari kesejahteraan, kemakmuran, dan juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT. Makna Ingkung Mbah Ali Muksin melanjutkan pemaknaan menu ayam ingkung. Keberadaan ayam ingkung ini sebenarnya merujuk kepada perintah Nabi Muhammad SAW jika akan mengadakan selamatan maka alirkanlah darah. Darah tersebut dapat berasal dari ayam, telor ayam, landak, kambing, sapi, dan unta. Lantas ayam ini menjadi pilihan dengan sebab hewan yang relatif lebih mudah untuk didapatkan. Pemaknaan ayam dimulai dari asal katanya dari bahasa arab ayamun yang berarti hari. Yang kemudian menjadi simbol agar mendapatkan keselamatan, kesejahteraan dan ketentraman setiap harinya. Lantas pemaknaan kedua adalah dari nama ayam dalam bahasa jawa pitik yang juga berasal dari bahasa arab yang memiliki arti kunci. Hal tersebut kemudian menjadi simbol jika ayam ingkung tersebut merupakan kunci dari hajatan atau wilujengan yang diadakan. Dalam membagi daging ayam ingkung ini tidak diperbolehkan untuk mematahkan tulang-tulangnya, namun pembagiannya adalah dengan mematahkan tepat pada ruas-ruasnya. Tindakan ini merupakan persimbolan atas larangan Nabi Muhammad agar tidak memutuskan tali persodaraan. Tumpeng Miriombo Wetan Pemaknaan tumpeng tersebut berbeda pada setiap hajatan sesuai dengan tujuan hajatan tersebut. Pada acara merti dusun Miriombo Wetan, setiap tumpeng dan golong pun memiliki tujuan dan pemaknaan yang sedikit berbeda. Bapak Ali Muksin kemudian menjelaskan secara rinci mengenai tumpeng dan ubo rampenya tersebut. Tumpeng berwarna kuning merupakan simbol dari sifat bakti masyarakat Miriombo Wetan terhadap leluhur yang ada di Miriombo Wetan. Kemudian Tumpeng Kencono merupakan sebuah simbol untuk meminta kepada Allah SWT agar segala do’a-do’anya terijabah, segala usaha yang dilakukan masyarakat Miriombo Wetan baik petani, pedagang, buruh, dsb, dapat berjalan dengan lancar dengan hasil yang maksimal tanpa suatu kendala apapun. Wilujengan Dalam acara wilujengan Miriombo Wetan tersebut juga terdapat beberapa golong yang setiap golong merupakan simbol-simbol tertentu. Yang pertama adalah sebagai simbol kebaktian kepada istri nabi Adam AS yang telah melahirkan umat manusia. Yang kedua adalah sebagai simbol bakti kepada Ki Ageng Mataram yang mulai babat alas di tanah Jawa. Yang ketiga adalah sebagai simbol bakti kepada Ki Juru Mentani. Kemudian yang keempat adalah sebagai simbol bakti kepada Dewi Sri yang atas rezeki dan bibit tanaman yang tumbuh bagi para petani. Selanjutnya adalah golong sebagai bentuk bakti kepada Dewi Pertimah. Kemudian yang terakhir adalah golong empat penjuru mata angin dan satu pusat sebagai wujud permintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dikabulkan permintaannya. Dan secara umum hajatan wilujengan tersebut merupakan bentuk untuk membersihkan dusun merti dusun agar bumi yang ditempati bersih dari berbagai gangguan dan mendapatkan kehidupan yang nyaman dan tentram Gambar Narasumber Ali Muksin, 83 tahun, Sesepuh Desa, Dusun Miriombo Wetan RT 02/RW 06, Desa Giripurno Relasi Budaya Sumber Lain Dari Kanal Tapiakhirnya happy ending juga..tumpeng dibuat dengan lauk pelengkap gaya anak yang betul-betul dilakukan dengan durasi yang sangat singkat, telah berhasil dan dihias tuntas dengan "on time". Lauk pelengkap nya terdiri dari : ayam goreng lengkuas, mie goreng Jawa, telur dadar iris, sosis ayam panggang, dan kering kentang
mauu mengadakan hajatan, tasyakuran ? tapi tidak ingin repot? .. tengok sejenak, blog kamii..! kami menyajikan beberapa tumpeng dalam hidangan dalam stiap acara apapun . di setiap adat jawa seperti acara pernikahan, pindah rumah, 7 Bulanan, dll. macam-macam tumpeng Tumpeng Robyong untuk acara pernikahan Tumpeng Kendit untuk acara kehamilan 7bulanan Tumpeng Brokohan untuk acara kelahiran bayi Tumpeng Turun Tanah / Tendhak Siti untuk acara usia bayi 7 bulan Tumpeng Megono untuk acara pindahan rumah Tumpeng Pungkur untuk acara orang meninggal Tumpeng Kuning / Kreasi Baru untuk acara tasyakuran, ulang tahun, dll di setiap tumpeng memiliki menu yang sama yaitu 1. NASI PUTIH 2. URAPAN 3. OREM – OREM 4. LODEH KLUWIH 5. REMPAH 6. REMPEYEK 7. BANDENG 8. AYAM BEKAKAK / AYAM INGKUNG tetapi ada tumpeng yang memiliki menu berbeda dari tumpeng yang lainnya, yaitu TUMPENG KUNING / KREASI BARU. Tumpeng ini memiliki menu masakan sebagai berikut NASI KUNING AYAM GORENG / OPOR PERKEDEL KENTANG SAMBAL GORENG ATI + KENTANG SAMBAL GORENG KERING TEMPE TELUR DADAR ABON UDANG GORENG yang membuat berbeda antara tumpeng satu dengan yang lainnya adalah dari pelengkapnya TUMPENG ROBYONG, pelengkap jajan pasar, bubur, polopendem, dawet ayu, pisang ayu TUMPENG MEGONO, pelengkap jajan pasar, bubur, polopendem, pisang ayu TUMPENG KENDIT, pelengkap jajan pasar, bubur, polopendem, dawet ayu, pisang ayu, cangkir gading TUMPENG BROKOHAN, pelengkap sego golong TUMPENG TENDHAK SITI, pelengkap tetel, bubur TUMPENG PUNGKUR seperti ; RESEP OTAK – OTAK BANDENG BAHAN * 750 gr bandeng 1 ekor Q 1/2 kg daging ikannya * 120 gr roti tawar 3 lembar * 1 butir telur ayam untuk isi * 1 butir telur ayam untuk mengoles * 1 sdm minyak untuk menumis * 1 sdt kecap manis BUMBU YANG DIHALUSKAN * 5 butir kemiri * 5 siung bawang putih * 3 buah cabai merah * 1 iris jahe * 2 lembar daun jeruk * 1 sdm gula pasir CARA MEMBUAT OTAK OTAK BANDENG 1. Ikan bandeng dibuang sisiknya dan cuci sampai bersih. 2. Bandeng dibersihkan dengan mengeluarkan insang dan isi perutnya melalui insang, lalu dicuci sampai bersih. 3. Tarik bagian ekor dan kepala secara bersamaan, sampai berbunyi supaya lepas durinya. 4. Pukul-pukul badan bandeng agar daging hancur dan lepas dari kulitnya dengan memakai penumbuk kayu. 5. Belah sedikit kulit di bawah kepala lalu keluarkan daging ikan melalui lubang tersebut sambil perlahan-lahan kulit dibalik melalui lubang itu untuk memudahkan mengambil dagingnya sampai bersih dan tinggal kulit bersama ekor dan kepala, cuci bersih. 6. Daging bandeng yang telah dikeluarkan tadi diletakkan dalam wajan, beri sedikit air dan jerang di atas api sehingga duri-duri lepas dari daging, angkat 7. Daging yang telah dijerang tadi kemudian dipilih dan dibersihkan dari durinya, lalu masukkan daring yang telah bebas dari duri-duri tadi ke dalam 1 buah mangkok. 8. Campur daging ikan yang telah bersih dari duri tadi dengan roti dan diblender sampai halus dan campur dengan bumbu yang dihaluskan dan 1 butir telur. 9. Setelah semua tercampur rata, masukkan kembali campuran ini kedalam badan ikan bandeng yang berbentuk kulit , diisi penuh sampai berbentuk ikan seperti semula. 10. Bandeng yang sudah diisi tali dibungkus daun pisang dan dikukus sampai masak sekitar 30 menit, angkat. 11. Setelah dingin buka daun pisangnya, pecahkan telur ayam, beri sedikit garam, dan balurkan keseluruh badan ikan. di oven sampai kering, kuning kecoklatan, angkat. 13. Hidangkan dengan diiris-iris. sumber
KupatanDurenan 10 Mei 2022. Kecamatan Durenan memiliki tradisi setiap tahunnya yaitu perayaan kupatan. Keunikannya, lebaran kupatan ini merupakan lebaran utama dalam tradisi masyarakat Kecamatan Durenan, utama dalam hal ini adalah puncak dari keramain itu sendiri, yang istimewa, dalam lebaran ketupat, hampir setiap rumah warga menyediakan makanan ketupat khas Durenan.
Jakarta - Nasi dengan topping ayam suwir pedas gurih khas Ponorogo ini enak dimakan hangat. Rasanya gurih pedas dan semakin enak saat dimakan hangat. Bikin yuk!Mirip dengan nasi kucing di Jawa dan nasi jenggo di Bali, sego gegok atau nasi gegok merupakan nasi khas Ponorogo, Jawa Timur. Nasi dengan porsi mungil diberi topping ayam suwir yang pedas dan dibungkus bentuk dahulu sego gegok merupakan makanan favorit para warok, orang sakti dalam kesenian reog. Kemudian banyak dibuat dan dimakan oleh masyarakat meskipun kini sudah tak banyak yang menjualnya. Rasa gurih pedasnya menggugah selera. Total Waktu Penyajian 60MenitUntuk Penyajian 6PorsiJudul Resep Tumpeng Sego Gegok Khas PonorogoKategori nasi kompletMasakan nasiDurasi Persiapan 30MenitDurasi Masakan 30MenitTotal Durasi 60MenitNutrisi KaloriBahan 250 g beras pule, cuci200 g fillet dada ayam, rebus, suwir-suwir2 lembar daun jeruk2 lembar daun salam1 sdt kaldu jamur1 sdt garam1 sdt gula pasirBumbu Halus5 butir bawang merah3 siung bawang putih1 cm kencur4 buah cabe merah3 cabe rawit merahCara Membuat Tumpeng Sego GegokMasak nasi dengan rice cooker atau diaron dan dikukus sesuai selera. Tambahkan sedikit air agar nasi agak minyak, tumis bumbu halus, daun salam, dan daun jeruk, hingga harum dan suwiran ayam, aduk rata,.Bumbui dengan garam, gula pasir, kaldu jamur, masak hingga bumbu meresap. daun pisang, bentuk kerucut, isi dengan suwiran ayam, tekan-tekan, lalu tambahkan nasi putih, tekan-tekan, dan bungkus dalam kukusan panas selama 20 buka bungkusnya dan sajikan Tumpeng Sego Gegok. Foto iStockTips membuat Sego Gegok Khas Ponorogo1. Sebaiknya buat nasi sedikit lembek agar bisa terbentuk nasi kerucut seperti tumpeng mungil yang padat. 2. Rasa ayam suwir umumnya gurih pedas. Kamu bisa tambahkan jumlah cabe jika suka rasa yang lebih pedas menyengat. 3. Sebaiknya nikmati sego gegok saat masih hangat. Simak Video "Rasa Autentik Rawon Bar dengan Sentuhan Kekinian" [GambasVideo 20detik] odi/odi
242resep pelengkap tumpeng ala rumahan yang mudah dan enak dari komunitas memasak terbesar dunia! Lihat juga resep Mie Goreng Praktis ~ Pelengkap Tumpeng enak lainnya. Dengan memakai Cookpad, kamu menyetujui Kebijakan Cookie dan Ketentuan Pemakaian .
Artikel ini bertujuan untuk mengungkap sesaji upacara Taur di candi Prambanan. Upacara Taur adalah upacara pembersihan alam atau memprasida bumi. Kebiasaan yang sudah berlalu, pelaksanaan Upacara Taur di Prambanan menggunakan sesaji tradisi dari Bali. Upacara Taur di Candi Prambanan pada bulan Maret 2018 berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, perbedaannya adalah sesaji Taur menggunakan sesaji kearifan local. Penggunaan sesaji sesuai kearifan local Jawa untuk menjawab anggapan pelaksanaan upacara Hindu tidak selalu seperti tradisi di Bali. Sesaji kearifan local upacara Taur di Prambanan melalui proses sosialisasi dengan melakukan Sarasehan Pinandeta di Klaten yang dihadiri tiga Pandita. Sarasehan menghasilkan konsep sesaji sesuai kearifan local yakni; Tumpeng Agung, Tumpeng Palang, Tumpeng Gurih Kuning, Tumpeng Pras, Sego Liwed,Sego Golong Lulud, Sekar Setaman, Gedang Ayu, Jajang Wudug Wulung, Gunungan, Gecok, Jenang Ombak-ombak, Jenang Arang Kambang, Jenang Menir, Nasi monco warno, Jenang monco warno, Jenang Tolak balak, Jenang Katul Lateng. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the has not been able to resolve any citations for this dan Adat Istiadat D I YogyakartaProyek DepProyek dan Adat Istiadat D I Yogyakarta.

Tumpenggenep. Terdiri dari tumpeng wajar, tumpeng wuduk, ambeng, sego golong, panggang ingkung, lalapan lengkap dengan bumbu pecel, sayur kluwih, sambel goreng

Desa Kemiren, Glagah, Bayuwangi, sekitar 90% penduduk, merupakan masyarakat adat Suku Osing. Mereka tetap mempertahankan tradisi leluhur. Salah satu, kuliner khas sajian para tamu. Bahkan, saban tahun ada gelaran Festival Tumpeng Sewu atau Festival Seribu Tumpeng. Warga juga kerap menggelar kenduri sebagai ungkapan syukur. Dalam ritual adat Osing, ada sajian tumpeng serakat. Selama 10 tahun terakhir, bahan baku tumpeng serakat tak lengkap karena sudah langka, dan ganti jenis berbeda, seperti terung, biasa pakai terung putih jadi terung hijau. Kacang koro mulo atau koro putih juga ganti warna hijau. Beragam pangan tersaji, seperti tumpeng dengan pecel ‎pitek atau pecel ayam. Olahan ayam kampung panggang dengan bumbu parutan kelapa dan sambal. Ada juga sego golong, yakni, nasi berbungkus daun pisang. Lauk pauk, telur rebus campur bumbu pecel seperti pecel pitek. Ritual ini penting, sebagai bagian menjaga ketahanan pangan lokal, penganan yang tumbuh di lingkungan setempat. Masyarakat adat Osing di Kemiren, selain menjaga ritual juga melestarikan rumah adat. Lebih dari separuh penduduk mempertahankan rumah berarsitektur khas Osing, ada yang berusia ratusan tahun, diwariskan turun temurun hingga lima generasi. Semua bangunan asli, hanya dinding berbahan anyaman bambu tiga kali renovasi. Anyaman bambu pakai jenis pipil lantaran tebal dan kuat. Bunyi gamelan mengalun merdu, membahana dari balik Rumah Budaya Osing, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Rumah Budaya Osing ini sebagai ruang pertemuan masyarakat adat Osing. Angklung pagelak khas suku Osing, turut mengiringi. Para pemuda adat Osing cekatan, menata aneka makanan tradisional Using atau Osing di dalam piring dengan tutup daun pisang. Aneka sayuran dengan beragam lauk pauk lengkap tersaji. Kuliner khas kenduri sebagai ucap syukur kepada Tuhan. Tak ketinggalan, ada kendi berisi air minum. Para tetamu memegang daun pisang untuk wadah pengganti piring. Bergantian mereka mengambil nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk. “Ada tumpeng khusus untuk ritual kesuburan,” kata Wiwin Indiarti, dosen Sastra Inggris Universitas PGRI Banyuwangi sekaligus pelestari tradisi Osing. Sekitar 90% penduduk Kemiren, merupakan masyarakat adat Suku Osing. Mereka tetap mempertahankan tradisi leluhur. Salah satu, kuliner khas sajian para tamu. Bahkan, saban tahun ada gelaran Festival Tumpeng Sewu atau Festival Seribu Tumpeng. Warga juga kerap menggelar kenduri sebagai ungkapan syukur. Dalam ritual adat Osing, ada sajian tumpeng serakat. Selama 10 tahun terakhir, bahan baku tumpeng serakat tak lengkap, ganti jenis berbeda, seperti terung, biasa pakai terung putih jadi terung hijau. Terung, katanya, tak boleh berwarna ungu. Kacang koro mulo atau koro putih juga ganti yang warna hijau. Selain itu, labu siam putih juga nyaris sulit dicari alias langka berganti wargan hijau. Aneka tanaman sayur tersebut mulai langka, lantaran masyarakat mulai meninggalkan tanam sayuran itu. Mereka mengganti dengan sayur dari luar daerah dengan rasa dinilai lebih enak dan renyah. Wiwin mengatakan, tugas pemerintah membudidayakan bahan makanan atau bibit lokal untuk ritual. Labu putih, banyak di Sunda. “Masyarakat Sunda memiliki alasan membudidayakan, kenapa di Banyuwangi punah?” Tumpeng, salah satu sajian dalam ritual Suku Osing. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Ritual ketahanan pangan dan kesuburan Selain itu juga ada bahan makanan yang tak umum mereka pakai sebagai bahan baku makanan, yakni, daun belimbing yang berbunga tetapi gagal berbuah. Masakan ini diwariskan turun temurun secara lisan. Tak ada teks atau buku yang menuliskan resep ini hingga banyak yang tak mengetahui tata cara memasaknya. Selain itu, tumpeng juga tersaji pecel ‎pitek atau pecel ayam. Olahan ayam kampung panggang dengan bumbu parutan kelapa dan sambal. Ada juga sego golong, yakni nasi berbungkus daun pisang. Lauk pauk, telur rebus campur bumbu pecel seperti pecel pitek. Sego golong dipercaya agar pikiran pemilik hajat bisa plong atau lega. Ritual ini penting, katanya, sebagai bagian menjaga ketahanan pangan lokal, penganan yang tumbuh di lingkungan setempat. Bahan pangan tahan cuaca karena perubahan iklim, dan tahan predator lokal yang memiliki keunggulan tersendiri. Tumpeng, merupakan bagian dari ritus kesuburan. Meraayakan manusia dengan tanah. Tumpeng untuk ritual, katanya, tersaji khusus khusus. Sebelum dimakan bersama ada ritual dipimpin tokoh adat. Menurut Wiwin, ritual tumpeng merupakan usaha leluhur membangun interaksi manusia dengan leluhur dan sesama manusia. “Makan bareng, duduk bersama. Tinggi sama rendah,” katanya. Ia juga cara menjaga alam. Ritual masyarakat adat, katanya, lekat dengan tanah leluhur. Ia bagian dari kultur masyarakat agraris. “Bagaimana ritual kesuburan dilakukan jika tak ada lahan?” Terjadi alih fungsi lahan jadi permukiman, industri dan tambang. Alih fungsi lahan, katanya, tak dibenarkan dan harus dikendalikan. “Tak tersisa, alam penting untuk menjaga keseimbangan,” katanya. Kini, sebagian bahan pangan langka dan punah apalagi di pasar tersedia untuk memenuhi kebutuhan pangan. Masyarakat Osing tak lagi menanam di halaman rumah. Pola menanam tanaman di rumah, katanya, bagian dari menjaga ketahanan pangan. “Kita sudah berbeda dengan lehuhur,” katanya. Perabotan di rumah adat Osing. Foto EKo Widianto/ Mongabay Indonesia Rumah adat Osing Masyarakat adat Osing di Kemiren, selain menjaga ritual juga melestarikan rumah adat. Lebih dari separuh penduduk mempertahankan rumah berarsitektur khas Osing, ada yang berusia ratusan tahun, diwariskan turun temurun hingga lima generasi. Semua bangunan asli, hanya dinding berbahan anyaman bambu tiga kali renovasi. Anyaman bambu pakai jenis pipil lantaran tebal dan kuat. Bagian depan rumah pakai gebyok berbahan papan kayu. Bangunan utama seperti pilar atau saka guru dengan kayu benda atau bendo Artocarpus elasticus. Orang Osing menyukai kayu bendo karena stabil tak berubah meski terkena hujan dan panas. “Kayu jati bisa melar,” katanya. Adi Purwadi, pimpinan Rumah Budaya Osing mengatakan, kayu bendo relatif ringan dan keawetan setara kayu jati. Bendo juga ulet seperti kayu besi. Kayu bendo berat dan berwarna warna putih kekuningan. “Kayu bendo juga cocok untuk furnitur,” katanya. Struktur rumah Osing berbeda terlihat dari atap bangunan. Terdiri dari rumah tikel balung dengan atap empat, baresan beratap tiga dan crocogan dengan atap dua. Biasanya, kata Adi, pakai atap tipe tikel, sedangkan baresan jarang. Crocogan biasa untuk bangunan di dapur. Ada yang menyebut rumah beratap tikel balung melambangkan penghuni sudah mapan. Sedangkan baresan melambangkan pemilik cukup mapan secara materi dengan rumah bentuk tikel balung. Rumah crocogan mengartikan penghuni masih keluarga muda atau dengan ekonomi belum mapan. Setiap rumah memiliki tempat penyimpanan hasil panen dan lesung atau alat penumbuk padi. Ia sebagai bagian usaha ketahanan pangan masyarakat Osing. Bagian dalam ada ruang tamu, sentong. Ruang tamu terdiri atas meja kursi untuk menerima tamu. Ada sejumlah lemari jadi etalase atau pajangan aneka gelas. Ada kinangan atau tempat aneka piranti untuk sirih, dan aneka pecah belah. Bagian belakang merupakan dapur dengan tungku berbahan bakar kayu dan menyimpan bahan pangan. Tarian grandrung dari Suku Osing. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Merawat tradisi leluhur Sejumlah pemuda duduk bersimpuh, mereka piawai memainkan instrumen musik tradisi seperti angklung pagelak khas suku Osing. Di sinilah, Lembaga Adat Masyarakat Osing Lemau beraktivitas, termasuk belajar mocoan atau tembang. Lemau berdiri sejak 2014. Kalau di Bali, macoan dikenal dengan membase atau Jawa menyebut mocopat, Madura mengenal istilah mamaca. Mereka tengah mocoan babad tawangalun. Dosen Wiwin mengatakan, mocoan sering gunakan lontar Yusup. Tembang lontar Yusup dari kisah yang tertulis dalam Surat Yusuf dalam Al-Quran. Dengan aksara Arab pegon ini, awalnya ditulis di atas daun lontar dengan bahasa Jawa kuno dan Jawa baru. Kondisi fisik daun lontar mulai lapuk hingga disalin di kertas. Lontar Yusup, katanya, serupa dengan lontar Yusuf di Bali, Madura, dan Lombok. Cirebon juga memiliki serat Yusup. Ada 20 variasi tembang hingga perlu direkam dalam satu tembang utuh agar tetap terjaga. Mocoan lontar Yusup biasa untuk ritual pernikahan. Sebagai wujud memanjat syukur dan berdoa agar pasangan langgeng seperti Nabi Yusuf dan Zulaikah. Juga ditembangkan dalam acara khitanan, agar anak tak merasa sakit saat khitan. Awalnya, ada warga Osing yang memiliki koleksi lengkap serat ambyah yang menceritakan kisah 25 nabi. Ada sejumlah pihak meminjam kini tinggal tersisa lima nabi, sebagian rusak hingga tak bisa dibaca. Masyarakat adat Osing, kadang menganggap itu sebagai pusaka. Mereka menyimpan dan tak membaca apalagi mengamalkan ajaran di peninggalan leluhur itu. Belum lagi, sebagian warga Osing tak bisa membaca apalagi mocoan. Makin lama makin langka, tak banyak pelestari mocoan. Beruntung lembaga masyarakat adat Osing menyalin dan melestarikan tradisi mocoan. Ada pula naskah serupa yang disimpan di sebuah pesantren. Seorang kiai pengasuh pesantren turut menyalin dan menulis lontar Yusup agar tetap terjaga. Wiwin menjelaskan, masyarakat Osing menganggap lontar Yusuf merupakan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Tiap tahun, ada ritual membaca tembang semalam suntuk. Kini, ia juga tengah tekun menyalin dan proses digitalisasi lontar secara bertahap. Ada pula lontar Ahmad, yang bercerita kisah nabi Muhammad. Ada banyak naskah kuno yang dipegang masyarakat. Pemilik sebagian besar petani yang diwarisi dari orangtua mereka. Mereka menjaga lontar sebagai pusaka. Sayangnya, mereka tak bisa baca dan mengamalkan. Sejak Desember 2017, Lemau menggelar pelatihan mocoan bersama generasi muda. Ketua Lontar Sub Milenial, Noval Moco mengatakan, kini banyak anak muda tertarik ikut mocoan. Sejumlah guru sekolah dasar juga belajar untuk materi pelajaran muatan lokal agar tradisi Osing tetap lestari. “Banyak anak muda yang tertarik belajar mocoan,” kata Noval. Dulu, mocoan hanya oleh laki-laki. Kini, perempuan juga belajar dan mulai menembang mocoan. Rumah adat Osing. Foto EKo Widianto/ Mongabay Indonesia Artikel yang diterbitkan oleh bencana ekologis, featured, hutan indonesia, hutan lindung, Hutan Rakyat, jawa, jawa timur, kerusakan lingkungan, ketahanan pangan, Masyarakat Adat, pertanian, Perubahan Iklim Pra peneliti pribumi orang Sunda yang telah turu t beIjasa membina serta mengembangkan bahasa dan sastra Sunda, di an taranya adalah : 1) D.K. AIdiwinata, menyusun buku "EImoening Basa Soenda" (1916), buku tata bahasa Sunda yang pertama dipergunakan di sekolah-sekolah , te rutama sekolah guru di Jawa Barat; 2) R. Soeria di Radja, menyusun buku
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia banyak ditemukan hal-hal unik. Salah satunya mengenai berbagai macam nasi atau sego. Banyak makna yang terkandung di dalamnya. Tak hanya sebagai makanan yang bisa dinikmati, ternyata berbagai macam sego ini banyak saya jumpai di dalam acara syukuran maupun upacara adat, seperti 1. Sego Gurih Sego Gurih banyak dikenal di kalangan masyarakat di Yogyakarta. Sego ini dimasak dengan santan dan garam hingga rasanya menjadi gurih. Di Yogyakarta masih ada mitos tentang sego gurih di setiap perayaan sekaten, bahwa dengan memakan sego gurih dipercaya akan mendatangkan keberkahan dan kemakmuran bagi orang yang menikmatinya. 2. Sega Liwet Namanya sega liwet, namun cara pembuatanya tidak harus dengan cara diliwet, melainkan bisa juga dikukus. Sego liwet wajib disediakan pada saat terjadi gempa bumi, dengan beraneka lauk pauk disertai lantunan doa. Para abdi dalam keraton menyantap sega liwet tanpa beralas piring hanya dengan sepincuk daun pisang sebagai alasnya. Ini merupakan simbol kesederhanaan. 3. Sega Golong Masyarakat Jawa Tengah menyajikan sega golong untuk upacara perkawinan, sunatan, dan kelahiran. Sega golong disajikan dengan berbagai kelengkapan lauk pauk. Makna dari sega golong adalah menyatukan tekad. Dalam upacara perkawinan, penyajiannya adalah 2 buah sega golong yang masing-masing diselimuti oleh telur dadar, pecel, dan daun kemangi. Maksudnya yaitu menggambarkan kedua insan yang saling membantu dalam menjalani kehidupan berumah tangga. 4. Sega Wiwit Sebelum masa panen tiba, masyarakat Jawa khususnya petani menyajikan sega wiwit. Menu ini sebagai ungkapan doa syukur atas limpahan hasil panen dari Tuhan YME. Tradisi wiwitan sendiri bermakna akan terjalinnya hubungan keselarasan antara petani dengan alam. Sega wiwit biasanya dibentuk seperti tumpeng dan diletakkan di atas tampah yang terbuat dari anyaman bambu. 5. Sega Ambengan Sega ambengan atau asahan adalah berupa nasi putih disertai lauk pauk kering dan sambal cabuk. Sambal cabuk terbuat dari ampas buah wijen. Sega ambengan ini melambangkan permohonan ampunan bagi orang yang meninggal agar diampuni segala dosa-dosanya, dan bagi keluarga yang ditinggalkan dapat memperoleh ampunan Tuhan. 6. Sega Punar Sega punar sering disebut sega kuning. Sega yang dimasak dengan santan dan sedikit parutan kunyit sehingga berwarna kuning. Sega punar melambangkan simbol kebersihan. Biasanya sega punar ini disajikan dengan lauk pauk, seperti kedelai hitam, abon, telur, sambal goreng, ayam goreng. Dalam upacara perkawinan adalah sebagai gambaran bersatunya pasangan suami istri yang diharapkan dapat seiring sejalan dalam membangun rumah tangga. Diantara 6 sega tersebut, saya paling suka dengan sega gurih. kamu sendiri, sering makan sega yang mana, Dears? Salaam, SETIP SEmingguTIgaPostingan estrilookchallenge estrilookcommunity dayfourteen
Tumpengterbuat dari nasi putih berbentuk kerucut yang menyerupai gunungan dimaksudkan untuk memberi sedekah dan sekaligus menghormati para dewa dan roh-roh yang bersemayam Sego golong yaitu nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang dan ditengahnya berisi telur Kemudian sebagai pelengkap nasi diatasnya dibubuhi lauk berupa sambal
Sego golong termasuk ke dalam nasi yang dilengkapai beberapa menu sebagai pelengkapnya. Nasi selamatan/Sego GolongBahasa Jawa, biasa dibentuk bulat. Berbentuk bulat dimaksudkan untuk melambangkan kebulatan tekad yang manunggal. AYAM • 1 kg ayam, potong 12 bagian • 2 lembar daun jeruk • 600 ml santan dari ½ butir kelapa • 11/2 sdt garam • 1 sdt gula pasir BUMBU HALUS • 10 butir bawang merah • 2 siung bawang putih • 4 butir kemiri bakar • ½ sdt terasi URAP • 250 gram kelapa setengah tua, parut kasar • 2 lembar daun jeruk , iris tipis • ¾ sdt garam • ¾ sdt gula pasir • ½ sdt terasi bakar, haluskan • 4 siung bawang putih, haluskna • 5 buah cabai merah keriting, haluskan • 3 cm kencur, haluskan • 1 sdt air asam jawa • 6 lonjor kacang panjang, potong 2 cm • 75 gram taoge kedelai, bersihkan akarnya • 1 buah mentimun, potong dadu kecil • 4 tangkai kemangi, ambil daunnya • 2 sdm petai cina PELENGKAP • Nasi putih • Bakwan jagung • Sayur bening bayam CARA MEMBUAT SEGO GOLONG 1. AYAM Lumuri ayam dengan sedikit garam, biarkan 30 menit. Panggang ayam hingga kecoklatan. Angkat. 2. Tumis daun jeruk dan bumbu halus hingga harum. Tuangi santan, masukkan ayam, gula dan garam. Masak hingga santan mongering dan matang. Angkat. 3. URAP Campur kelapa parut dan daun jeruk, gula, garam, bumbu halus dan air asam, aduk rata. Kukus bumbu urap hingga matang. 4. Rebus kacang panjang dan taoge kedelai hingga layu. Angkat dan tiriskan. 5. Campur semua sayuran dan bumbu urap, aduk rata. 6. Sajikan nasi putih, ayam bumbu, urap, bakwan jagung, dan sayur bening bayam. UNTUK 12 porsi

SURYA SENIN, 31 AGUSTUS 2009. Tunjangan Rumah Dewan Rp 11,5 M. OM ong POLitik Saya tidak kepikiran kalau Mbak Tutut akan mencalonkan diri. Saya justru khawatir ini hanya ulah saudara Yuddy yang

Sepertinya Anda menggunakan alat otomatisasi untuk menelusuri situs web kami. Mohon verifikasi bahwa Anda bukan robot Referensi ID 93bd1747-0c4a-11ee-bc25-50794250544f Ini mungkin terjadi karena hal berikut Javascript dinonaktifkan atau diblokir oleh ekstensi misalnya pemblokir iklan Browser Anda tidak mendukung cookie Pastikan Javascript dan cookie diaktifkan di browser Anda dan Anda tidak memblokirnya.
.
  • mod94e4u0e.pages.dev/138
  • mod94e4u0e.pages.dev/7
  • mod94e4u0e.pages.dev/176
  • mod94e4u0e.pages.dev/162
  • mod94e4u0e.pages.dev/440
  • mod94e4u0e.pages.dev/485
  • mod94e4u0e.pages.dev/274
  • mod94e4u0e.pages.dev/351
  • sego golong pelengkap dari tumpeng