TRIBUNNEWSCOM, MAJALENGKA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka menggelar nonton bareng (nobar) Film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara di halaman Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka. Kasubid Apresiasi dan Penghargaan-Pusat Pengembangan Perfilman Kemdikbud, Dini Indrawati sangat antusias dan berharap generasi muda y
Summary Aisyah just graduated. She lives in Ciwidey, West Java, a religious village near a tea plantation, with her mother and younger brother. Her father had died a few years ago. She wants to be a teacher. One day, she gets a call from the foundation where she enrolled she gets her wish fulfilled at the location that she never knows Derok, North Middle Timor District. From the beginning she feels like a "foreigner". The local people mistake her as Sister Maria, just because she wears a veil like a sister. The people is expecting the arrival of Sister Maria as a teacher in the village. This isolated village is without electricity and cellular signals. The new environment, the different tradition and religion make Aisyah giddy. Fortunately there is Pedro Arie Kriting who makes the problems easy. She must face the hatred of one of his student, Lordis Defam. Through the chief, she understand that she is a Muslim who is considered an enemy by Lordis Defam who is a catholic Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Trailer Watch Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Online No streaming options found. Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Photos Cast Crew Aisyah Biarkan Kami Bersaudara: Directed by Herwin Novianto. With Laudya Cynthia Bella, Agung Isya Almasie Benu, Wilhelmina Seo Enok, Lydia Kandou. A Muslim woman who become teacher in a Catholic village in Atambua, East Nusa Tenggara. ï»żAisyah Biarkan Kami Bersaudara From Wikipedia, the free encyclopedia Aisyah Biarkan Kami Bersaudara English Aisyah, Let Us be a family[1] is a 2016 Indonesian film produced by Film One Productions and directed by Herwin Novianto. The film was about a Muslim women who become teacher in a Catholic village. Shooting location was on Atambua, East Nusa Tenggara. The film starred Laudya Cynthia Bella, Lidya Kandau, Arie Kriting, and Ge Pamungkas. The film was premiered on mid-May 2016.[2]

Aisyah Biarkan Kami Bersaudara adalah sebuah film drama Indonesia 2016 yang diproduksi oleh Film One Productions dan disutradarai oleh Herwin Novianto.Film ini diangkat dari kisah nyata seorang wanita muslim yang menjadi guru di sebuah desa terpencil. Film ini mengambil lokasi syuting di Atambua, Nusa Tenggara Timur.Film tersebut dibintangi oleh Laudya Cynthia Bella, Lidya Kandau, Arie

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Saya adalah penggemar film-film Hollywood, terutama untuk film-film yang populer dan masuk box office amerika, tentu saja tidak ketinggalan film-film Superhero yang kini tengah menjamur akhir-akhir ini, sebut saja Deadpool di awal tahun, lalu BatmanVSuperman, dan yang terakhir Civil War yang menghebohkan bioskop-bioskop di Indonesia."X-Men Appocalypse" sudah tentu masuk dalam radar ku sebagai salah satu film yang harus aku tonton bulan Mei ini. Sudah berminggu-minggu lalu saya menyaksikan trailer2nya, mencari tahu sosok Appocalypse, dan tentu saja sudah menyaksikan 2 film prekuel sebelumnya.. tetapi.. kemudian.. Ada 1 film yang mengusik nurani dan pikiranku.. hingga akhirnya aku membatalkan nonton x-men pada hari itu dan memilih menonton film itu."Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara", bukanlah film yang populer bahkan untuk masyarakat Indonesia sendiri, sangat jauh jika dibandingkan dengan AADC2 yang hingga kini 24 April masih tayang di Bioskop. Bahkan saya sendiri pertama kali mengetahui film ini "ada" hanya dari sebuah poster kaca kecil di dinding salah satu bioskop di Bogor. Namun dari sana, rasa penasaran pun timbul, melihat sosok cantik Laudya Cynthia Bella yang berhijab, dengan sekelompok anak-anak yang terlihat seperti dari daerah Indonesia Timur. Tidak ingin rasa penasaran berlarut lama, ku buka youtube app ku, dan ku ketik.. "Aisyah Biarkan kami bersaudara trailer" sumber Dan ketika trailer itu bermain, sontak aku merasa ini adalah salah satu kisah cerita yang unik dan berkesan.. Dimulai dari kisah seseorang bernama Aisyah, gadis sunda berhijab dari daerah Jawa Barat, memilih untuk menjadi guru di sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Timur, khususnya daerah Atambua. Walaupun masih dalam satu Indonesia, Jawa Barat dan NTT memiliki banyak perbedaan yang cukup signifikan mulai dari alam geografisnya, iklim cuaca, juga perbedaan yang bersifat sosial seperti budaya, bahasa, dan Agama. Tentu tidak mudah bagi seorang Aisyah untuk menjadi guru di daerah yang penuh perbedaan, dan tidak seru rasanya jika sebuah film tidak ada yang namanya konflik. Semua itu ditunjukkan dalam trailer tersebut walaupun kemudian film nya tidak sesederhan itu, namun yang terpenting.. aku sudah memantapkan diri untuk menonton film menunggu beberapa hari, hingga akhirnya film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara beredar di Bioskp, hampir bersamaan dengan film Hollywood yang ingin kutonton "X-Men Appocalypse", dan film Indonesia lainnya yang lebih populer dan memiliki budget marketing "My Stupid Boss". Dibintangi oleh Aktris Laudya Cynthia Bella, 2 Komika terkenal Ge Pamungkas dan Arie Keriting, serta aktris senior Lydia Kandou, tidak serta merta membuat film ini terdengar di bioskop-bioskop Indonesia Adanya 2 film itu, sudah dipastikan film Aisyah tidak terlalu terdengar di bioskop-bioskop Indonesia. Baru saja kubuka apps ku, dan ternyata benar saja, film Aisyah ini hanya tayang tidak lebih dari 10 bioskop XXI yang ada di Jakarta Kejamnya XXI terhadap film negeri sendiri. Sumber 21Cineplex Akhirnya pada weekend kemarin, ternyata aku tidak salah memilih untuk menonton "Aisyah BKB" dibandingkan film "X-Men A". Apa yang ada di trailer atau sinopsis, ternyata hanya sekilah dari cerita sesungguhnya yang dihadirkan dalam keseluruhan film. Berbagai Pengalaman dan perjuangan sosok Aisyah di daerah terpencil Atambua, NTT.. membawa saya pada perasaan kagum dan haru, yang diselingi tawa dengan kehadiran sosok Pedro yang diperankan oleh Arie Keriting. Banyak pelajaran dan nilai-nilai kebaikan yang dapat kita ambil dari film ini, khususnya tentang persaudaraan kita dengan orang-orang yang berbeda dengan kita, dibawah bingkai NKRI. Berlokasi syuting langsung di daerah Atambua NTT dan menghadirkan langsung orang2 dan anak2 NTT asli untuk berperan dalam film, menunjukkan langsung kepada kita seperti apa realita kehidupan saudara-saudara kita yang tinggal dibagian timur Indonesia tersebut. sumber Satu catatan penting yang juga aku pelajari, bahwa film-film Indonesia saat ini sudah semakin baik dan berkualitas. Film-film mistis yang berbau pornografi sudah hampir tidak ditemukan lagi dalam dunia perfilman Indonesia. Selain menonton film-film luar negeri, Sudah saatnya kita lebih menghargai dan juga mulai untuk menonton film-film Indonesia yang selain menghibur, juga kaya akan nilai-nilai kebaikan. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya Aisyah Biarkan Kami Bersaudara | Laudya Cynthia Bella (2016) Sebuah Film yang diangkat dan berdasarkan kisah nyata tentang seorang guru yang dipilih mengajar kebagian timur Indonesia, tepatnya di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Film yang di sutradari oleh sutradara terpaik piala Citra 2012 dan di bintangi oleh bintang terkenal seperti Laudya
Sinopsis film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Sekilas film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara ini mengusung tema religi namun sebenarnya film ini mengakat tema persatuan dan menghargai. Dengan pengambilan film di tanah NTT, latar cerita tampak sangat nyata dengan perbedaan kepercayaan yang ada, apalagi hal tersebut nyata di terjadi Indonesia sendiri. Kisah dibuka dengan munculnya Aisyah Laudya C. Bella yang tinggal di tanah Ciwidey, Jawa Barat dan baru saja lulus sebagai sarjana. Aisyah yang tumbuh dengan nilai-nilai keagaaman yang serius berkeinginan untuk menjadi guru. Baca juga MODUS 2016 – Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer Video Maut 2016 – Sinopsis Lengkap dan Nonton Trailer Suatu hari Aisyah mendapatkan telepon dari yayasan tempat ia mendaftar bahwa ia diterima menjadi seorang guru namun ia harus pergi jauh ke NTT meninggalkan ayah, ibu serta adik laki-lakinya. Hal tersebut membuat ia dan ibunya bertengkar karena tak kuasa menahan kepergian anak perempuannya, apalagi tempat tersebut sangat terpelosok. Niat Aisyah tidak bisa dibendung lagi, ia akhirnya berangkat ke Dusun Derok kabupaten Timur Tengah Utara. Sesampainya disana betapa terkejutnya ia bahwa tempat tersebut sangat kering dan tidak ada listrik ataupun internet. Di sana Aisyah bertemu kepala desa dan juga warga dusun, namun mereka mengira Aisyah adalah suster Maria. Aisyah yang mengetahui hal tersebut kontan kaget dan pingsan, alasannya adalah warga mengharapkan kehadiran seorang suster disana dan karena sama-sama mereka memakai kerudung. Mayoritas warga disana beragama katolik, hal itulah yang menjadi tantangan bagi Aisyah, dilempari batu, diejek banyak orang sudah menjadi makanan sehari-hari disana. Namun ia tidak pantang menyerah, kehadiran Pedro Arie Keriting yang lucu mampu membuat Aisyah sedikit melupakan masalahnya. Kehadiran salah satu muridnya bernama Lordis Defam membuat Aisyah sedih. Lordis yang sengaja membenci Aisyah dan mulai menghasut teman-teman agar tidak masuk sekolah, awalnya Aisyah tidak tahu sebabnya ternyata ia baru menyadari seorang muslim disana dianggap sebagai musuh, hal itu yang ditanamkan oleh paman Lordis Defam yang beragama katholik. Aisyah yang sedih merasa putus asa dan menelepon ibunya untuk menceritakan semuanya, namun apa yang dikatakan ibu Aisyah adalah menyuruhnyakembali dan mengajar disana daripada mengajar ditempat yang tidak bisa menerima dia. Apakah pilihan Aisyah? akankah ia kembali ke Jawa Barat atau tetap tinggal? Saksikan kelanjutan ceritanya di film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Informasi film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Judul Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Jenis Drama Produser Hamdhani Koestoro Sutradara Herwin Novianto Penulis Jujur Prananto Pemain Laudya Cynthia Bella, Lydia Kandou, Ge Pamungkas, Arie Kriting, Surya Sahetapi Produksi Film One Production Negara Indonesia Bahasa Bahasa Indonesia Tanggal Rilis 19 Mei 2016 Poster film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Trailer film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Artikel Terkait
Seemore of Aisyah - Biarkan Kami Bersaudara on Facebook. Log In. or
Cast & crew2016A Muslim woman who become teacher in a Catholic village in Atambua, East Nusa Muslim woman who become teacher in a Catholic village in Atambua, East Nusa Muslim woman who become teacher in a Catholic village in Atambua, East Nusa production, box office & company infoPhotosMore like thisBe the first to reviewContribute to this pageSuggest an edit or add missing contentBy what name was Aisyah Biarkan Kami Bersaudara 2016 officially released in Canada in English?AnswerEdit pageMore to exploreRecently viewedYou have no recently viewed pages
Adapunpara pemain yang membintangi film aisyah: biarkan kami bersaudara antara lain laudya cynthia bella, lidya kandau, arie kriting, dan ge pamungkas. Film ini tayang di bioskop pada pertengahan mei 2016. Film ini akan menampilkan perjuangan wanita bernama Aisyah yang harus mengajar di sebuah desa kecil di daerah NTT.

Menjelang akhir Mei lalu gue sempet nonton satu film Indonesia bagus, judulnya “Aisyah – Biarkan Kami Bersaudara.” Sayangnya waktu itu gue nggak sempet nulis reviewnya langsung pas filmnya masih fresh dan bahkan belum tayang di bioskop, sekarang begitu filmnya udah turun, baru sempet gue tulis. -_- Tapi biar gitu, menurut gue semua orang butuh tau kalau kita punya film yang dibuat dan dikemas dengan sangat baik. Menurut gue sih ini film level festival. Sarat makna, sederhana, dekat dengan keseharian, punya pesan moral, dan menghibur, tentu saja. Selipan komedinya pas dan nggak kerasa dibuat-buat. Film ini mengisahkan Aisyah Laudya Cynthia Bella yang berprofesi sebagai guru yang ditempatkan di sebuah desa di Atambua. Ceritanya dimulai dari Aisyah masih menunggu kepastian penempatan di Puncak sana, sampai akhirnya dia harus beradaptasi di Atambua. Aisyah digambarkan sebagai seorang perempuan Islam yang taat tapi juga toleran, baik hati, mudah beradaptasi, dan sabar luar biasa. Sebenernya menurut gue hampir nggak ada konflik berarti sih di film ini. Konflik agama yang ditonjolkan juga nggak gitu-gitu amat rasanya. Bukan tiba-tiba si Aisyah ditimpukin batu atau apa, atau diusir dari kampung, cuma ada satu anak SD yang pemberontak aja yang bikin suasana belajar jadi nggak enak karena dia doang yang bawa-bawa isu agama di sana mayoritas Katolik, jadi si Aisyah ini kayak jarum di ladang jerami gitu dan menghasut temen-temennya yang lain untuk nggak sekolah hanya karena gurunya Islam. Nah, menurut gue sih konfliknya cuma di sini aja, dan tetep kurang kuat. If I were her, I personally wouldn’t really bother on that one kiddo if I can still manage the rest. Dari keseluruhan cerita, gue masih ngerasa Aisyah ini hidupnya sebenarnya baik-baik aja. Dateng dari keluarga Sunda baik-baik yang berkecukupan. Kaya nggak, miskin juga nggak. Punya ibu yang baik dan perhatian, punya gebetan cakep yang juga perhatian malah bikin hepi pada akhirnya, yang kalau mereka nggak jadian pun sebenernya nggak bikin dampak apa-apa, menurut gue Aisyahnya bakal baik-baik aja. Temen-temen dan warga kampung tempat Aisyah mengajar juga super baik semua dan berusaha bikin Aisyah merasa nyaman dan terbantu, walaupun di sana susah dapet makanan halal dan Aisyah sempet hampir nggak bisa pulang kampung pas Lebaran, semua warga ngebantuin. Bahkan ketika dia mengalami kesusahan di awal masa mengajarnya karena anak-anak yang awalnya kehasut isu agama itu pada mogok sekolah, kepala desa di sana segera turun tangan dan membantu. Terlepas dari kering dan tandusnya desa itu, bahkan sampe kekurangan air, tetep aja gue nggak ngeliat Aisyah susah-susah amat idupnya. Jadi apa yang bikin gue merasa film ini bagus? 1. Karena kekuatan akting semua pemainnya. Gue ngerasa mereka mainnya nggak ngasal, malah natural, jadi nontonnya enak. 2. Karena sinematografinya yang bisa bikin gue pengen cabut ke Atambua, dan makin yakin gue harus sering-sering eksplorasi Indonesia Timur. 3. Karena film ini membuka mata soal kualitas hidup temen-temen di Indonesia Timur dan bagaimana pemerataan pembangunan harus ditingkatkan di sana karena
 jomplang banget. Atau mungkin agak terlupakan. 4. Karena film ini juga nunjukkin kalau hidup berdampingan beda agama, atau jadi minoritas di wilayah agama mayoritas itu nggak susah. Banyak juga yang baik-baik aja, kok. Intinya orang baik di dunia ini tuh masih banyak banget. It doesn’t matter how you look or what your belief is. Nggak bilang Indonesia 100% super damai juga, tapi paling nggak sampai saat ini gue ngerasanya negara ini masih punya banyak harapan untuk bisa hidup damai berdampingan terlepas perbedaan suku, agama, ras, kehidupan, kondisi ekonomi, dan jahat dan nyebelin banyak, tapi yang baik-baik juga banyak. 5. Karena buatnya niat. Lo bisa bedain lah ya film yang dibuat asal jadi sama yang dibikinnya pake hati. Lo bisa ngerasa kok film ini dibuat dengan sangat baik, paling nggak dengan dedikasi. Apakah bisa lebih baik lagi? Bisa banget. Menurut gue sayang aja film bagus ini posternya cuma gitu doang. Harusnya bisa lebih “inviting.” Terus sound/scoring di beberapa scene sempet kekencengan, tapi sisanya OK. Teruuus, pesan dari film ini menurut gue sih bisa digeser/dititikberatkan ke hal lain, misalnya tentang perjuangan hidup di desa yang tertinggal, atau cantiknya Atambua, atau susahnya dapat akses ke pendidikan di desa terpencil, atau ke nilai-nilai persahabatan aja sekalian kayak Laskar Pelangi. I know this film covers almost all that aspects, but they emphasized it too hard on the religion bit I almost feel it’s a tad too much. Oh, satu lagi, coba tanggal rilisnya dibarengin sama pas anak-anak sekolah pada libur, mungkin film ini bisa bertahan lebih lama, paling nggak punya kans lebih besar untuk diliat sama anak-anak dan orang tua yang lagi pada libur. But all in all, once again, I love that it is well made, well written, and well acted! So if one day you have the chance to watch it though it’s not in theater anymore, please do! 😀

Janganlupa nonton #aisyahbiarkankamibersaudara #19mei2016
Pembahasan di artikel ini Ada terlalu banyak kebetulan di film Aisyah Biarkan Kami ini mengalami beberapa kali kesalahan saja Aisyah tidak mematok kisah ini terjadi di tahun kapan, ujaran saya ini otomatis ketika beralih ke substansi, kita mesti memuji bagaimana Jujur Prananto “sengaja” meluberkan berbagai holistik kita seperti tidak sedang menonton film, melainkan melihat manusia-manusia nyata beserta kemungkinan-kemungkinan riil di sekelilingnya. Ada terlalu banyak kebetulan di film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Sedikit kebetulan itu menyenangkan, sedang kebanyakan justru bikin komplikasi. Prolog jadi goyah. Meski begitu, setelah mencoba mengendapkan sekian waktu, saya disadarkan bahwa pilihan-pilihan itu memang disengaja. Penonton diajak mengikuti Aisyah, perempuan berjilbab yang menunggu panggilan kerja sebagai guru dari sebuah yayasan. Dia berada di posisi belum pasti tentang kapan jadwal pengangkatannya. Sampai selisih waktu singkat, datang telepon yang mengatakan dia bisa segera menjadi guru kalau mau ditempatkan di Derok, Kabupaten Timor Tengah Utara sebab ada kandidat yang mengundurkan diri. Tanpa punya tendensi macam-macam di awal, dia menerimanya–keputusan mendadak yang justru membuat kaget orang-orang terdekat. Sampai di tempat, Aisyah sadar bahwa ada sangat banyak tantangan yang bakal menghampirinya hari demi hari ke depan. Film ini mengalami beberapa kali kesalahan logika. Dan itulah mengapa saya di awal menyinggung kata “kebetulan” dengan penekanan. Karena terlalu banyak “kebetulan” yang coba disisipkan, naskahnya pun kewalahan. Timeline di layar agak susah kalau coba disesuaikan dengan pola berpikir realistis. Pada bagian ini, ingat bahwa bahasan kita masih di perkara logika belum substansi. Ambil contoh yang paling kentara penempatan Natal dan Idul Fitri yang tidak terpaut jauh jarak perayaannya. Kalau saja Aisyah tidak mematok kisah ini terjadi di tahun kapan, ujaran saya ini otomatis gugur. Sayangnya, departemen production design kedodoran lewat dimasukkannya elemen-elemen penunjuk “kekinian” semacam smartphone, motor, mobil, dan sebagainya. Kalau saya tidak salah perkiraan, dengan seting waktu yang dipertunjukkan semestinya film ini berada jauh sebelum smartphone populer, atau malah terletak di masa depan sekalian. Baru ketika beralih ke substansi, kita mesti memuji bagaimana Jujur Prananto “sengaja” meluberkan berbagai realita. Dengan posisi Indonesia seperti sekarang ini 2016, berbagai fragmennya adalah wujud kegelisahan yang bisa dialami dan diamini oleh semua orang. Coba tengok, baru juga di awal, kita sudah disambut dengan peringatan 100 hari meninggal. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana etnisitas sebenarnya bukanlah masalah besar. Aisyah yang perempuan, muslimah, dan Sunda tinggal bersama masyarakat adat yang berbeda agama, penduduk asli NTT, malahan Aisyah dilindungi-diayomi langsung oleh tetuanya. Banyak sekali penyajian semacam ini. Dan secara jujur, relasi dengan kondisi sekarang di mana banyak bermunculan orang bersumbu pendek, kehangatan dalam film Aisyah sukses membuat haru dan merinding. Sentimen buruk lahir karena salah paham, salah informasi seperti yang dialami Lordis Defam diperankan Dionisius Rivaldo Moruk, dan minimnya kesadaran bersosial. Layaknya karakter Aisyah, ini bukanlah film yang sempurna. Kalau sempurna, pasti film ini bisa menaruh product placement dengan lebih baik, bisa membangun jembatan plot yang utuh, bisa memberikan konklusi yang tidak se-lite ini. Namun, Aisyah melalui akting natural Laudya Cynthia Bella adalah sosok yang mau menjalani dan hidup menerima sekaligus belajar dari keadaan sekitar. Di beberapa bagian, melakukan kesalahan itu wajar. Secara holistik kita seperti tidak sedang menonton film, melainkan melihat manusia-manusia nyata beserta kemungkinan-kemungkinan riil di sekelilingnya. Aisyah Biarkan Kami Bersaudara memperoleh dari 10 bintang. Film ini telah ditonton pada 30 Oktober 2016, review resmi ditulis pada 30 Oktober, 26 Desember, dan 31 Desember 2016. Visited 883 times, 1 visits today
\n nonton film indonesia aisyah biarkan kami bersaudara
Kamisangat menghargai setiap data yang Anda bagi dengan kami. Silakan lihat laman Kontribusi untuk keterangan lebih lanjut. Persari mendatangkan 12 teknisi India untuk membuat Djandjiku (1956).
Sinopsis Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (2016) Aisyah adalah seorang sarjana yang baru saja lulus. Ia tinggal di sebuah kampung dekat perkebunan teh yang sejuk dan sarat dengan nilai religius di Ciwidey, Jawa Barat bersama Ibu dan adik laki-lakinya. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
.
  • mod94e4u0e.pages.dev/393
  • mod94e4u0e.pages.dev/421
  • mod94e4u0e.pages.dev/186
  • mod94e4u0e.pages.dev/488
  • mod94e4u0e.pages.dev/224
  • mod94e4u0e.pages.dev/392
  • mod94e4u0e.pages.dev/74
  • mod94e4u0e.pages.dev/155
  • nonton film indonesia aisyah biarkan kami bersaudara